Definisi Komunikasi

SHARE THIS

Share to:

Facebook Twitter

Definisi Komunikasi

Definisi Komunikasi - Komunikasi adalah suatu topik yang amat sering diperbincangkan, bukan hanya di kalangan ilmuan komunikasi, melainkan juga di kalangan orang awam, sehingga kata komunikasi itu sendiri memiliki banyak arti yang berlainan. Memahami komunikasi, istilah komunikasi merupakan langkah awal untuk memperbaiki pemahaman atas fenomena yang rumit ini. Wiliam I. Gorden (dalam Mulyana, 2001: 41) menjelaskan bahwa kata komunikasi, yang dalam bahasa Inggris communication, berasal dari kata Latin communis yang berarti sama. Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Berbicara tentang definisi komunikasi, tidak ada definisi yang benar ataupun salah. Seperti halnya juga model atau teori, definisi harus dilihat dari kemanfaatannya untuk menjelaskan fenomena yang didefinisikan dan mengevaluasinya.

Melalui komunikasi orang berusaha mendefinisikan sesuatu, termasuk istilah "komunikasi" itu sendiri. Apakah komunikasi itu suatu tindakan sesaat, suatu peristiwa atau suatu proses yang terus berkesinambungan? Tidak ada satu definisi pun yang dapat menggambarkan fenomena ini secara utuh. Sering kali ditemukan suatu definisi komunikasi berbeda atau bahkan bertentangan dengan definisi komunikasi yang lainnya. Tahun 1976 saja, Frank Dance dan Carl Larson (dalam Miller, 2002: 3) telah mengumpulkan 126 definisi komunikasi berlainan, sekarang tentunya jumlahnya lebih banyak lagi.

Dalam hal ini, Dance (dalam Mulyana, 2001: 54-55) mengemukakan tiga dimensi konseptual penting yang mendasari definisi-definisi komunikasi. Dimensi pertama adalah tingkat observasi (level of obsevation) atau derajat keabstrakannya. Misalnya, definisi komunikasi sebagai "proses yang menghubungkan satu sama yang lain bagian-bagian terpisah dunia kehidupan" adalah terlalu umum. Sementara komunikasi sebagai "alat untuk mengirim pesan militer, perintah dan sebagainya melalui telepon, radio, kurir dan sebagainya" adalah terlalu sempit.

Dimensi kedua adalah kesengajaan (intensionality). Sebagian definisi mencakup hanya pengiriman dan penerimaan pesan yang disengaja, sebagian definisi lainnya tidak menuntut syarat ini. Contoh definisi yang mensyaratkan kesengajaan ini dikemukakan oleh Gerald R. Miller, yakni komunikasi sebagai "situasi-situasi yang memungkinkan suatu sumber mentransmisikan suatu pesan kepada seseorang penerima dengan disadari untuk mempengaruhi penerima". Sedangkan definisi yang mengabaikan kesengajaan adalah definisi yang dinyatakan Alex Gobe, yakni "suatu proses yang membuat sama bagi dua orang atau lebih, yang tadinya merupakan monopoli seseorang atau sejumlah orang" (dalam Mulyana, 2001: 55).

Dimensi ketiga adalah penilaian normatif. sebagian definisi menyamarkan keberhasilan atau kecermatan, sementara yang lainnya tidak seperti itu. Definisi dari John B. Hoben, misalnya mengasumsikan bahwa komunikasi harus berhasil: "komunikasi adalah pertukaran verbal pikiran atau gagasan". Dalam asumsi ini secara implisit mengisyaratkan bahwa suatu pikiran atau gagasan harus dapat dipertukarkan. Sebagian yang lain seperti definisi komunikasi Bernard Berelson dan Gary Steiner; "komunikasi adalah transmisi informasi". Dalam definisi ini tidak mensyaratkan bahwa informasi harus diterima atau dimengerti.

Seperti dikemukakan oleh Littlejohn, perdebatan mengenai definisi komunikasi pada awal tahun 1990-an diantara beberapa teoritisi komunikasi, telah menyarankan beberapa kemungkinan untuk mendefinisikan komunikasi. Perdebatan tersebut menyoroti sembilan jenis perilaku yang dapat dianggap komunikasi. Kesembilan jenis perilaku ini ditentukan oleh sumber dan persepsi penerima.

Perilaku-perilaku yang berhubungan dengan komunikasi

Sumber: Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, Edisi ke-6, Belmont, Wadswort, 1999, Hal. 8
Tabel di atas menjelaskan sembilan jenis perilaku yang mungkin dianggap komunikasi. Berikut adalah penjelasan dan contoh yang biasa ditemukan:

1A. Perilaku simtomatik yang tidak dipersepsi - Anda menguap, namun tak seorang pun melihat itu (kebanyakan orang setuju itu bukan komunikasi).
1B. Simton yang dipersepsi secara insidental - Anda menguap namun kawan anda menyadari kemudian bahwa anda lelah meskipun ia tidak memperhatikannya tadi.
1C. Simptom yang diperhatikan - Anda menguap, dan kawan anda berkata "Apakah bsaya begitu membosankan?".
2A. Pesan nonverbal yang tidak diterima - Anda melambaikan tangan, namun kawan anda tidak melihatnya.
2B. Pesan nonverbal insidental - Kawan anda mulai berkata "maafkan saya tidak membalas lambaian tangan kamu, tetapi saya sedang memikirkan hal lain dan tidak menyadari bahwa kamu melambaikan tangan sampai saya berbelok".
2C. Pesan nonverbal yang diperhatikan - Anda melambaikan tangan kepada seorang kawan, dan ia membalas lambaian tangan anda.
3A. Pesan verbal yang tidak diterima - Anda mengirim sepucuk surat kepada sahabat anda, namun surat itu hilang dalam perjalanan.
3B. Pesan verbal insidental - Anda mengoceh kepada adik anda karena kamarnya berantakan, dan meskipun iya tahu anda sedang berbicara kepadanya, ia tidak begitu memperhatikan anda.
3C. Pesan verbal yang diperhatikan - Anda menyampaikan pidato kepada sekelompok orang yang senang mendengarkan apa yang anda katakan.

Dari kesembilan perilaku yang berhubungan dengan komunikasi di atas, mana komunikasi dan mana yang bukan? Dalam hal ini, Littlejohn (1999: 8) menjelaskan setidaknya ada tiga pandangan yang dapat dipertahankan. Pertama, komunikasi harus terbatas pada pesan yang secara sengaja diarahkan kepada oang lain dan diterima oleh mereka. Kedua, komunikasi harus mencakup semua perilaku yang bermakma bagi penerima, apakah disengaja ataupun tidak. Ketiga, komunikasi harus mencakup pesan-pesan yang dikirim secara sengaja, namun sengaja ini sulit ditentukan.

Komunikasi didefinisikan secara berbeda bagi masing-masing ahli komunikasi. para ahli cenderung melihat fenomena komunikasi dan manusia melalui sudut pandang mereka sendiri. Namun demikian, penulis tertari dengan definisi yang dibuat oleh Richard West & Lynn H. Turner, mereka mengemukakan bahwa komunikasi adalah proses sosial dimana individu-individu menggunakan simbol-simbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka (West & Turner, 2008: 5).

Selain itu, definisi komunikasi yang digunakan Sarah Trenholm dan Arthur Jensen juga cukup menarik. Komunikasi menurut Trenholm dan Jensen (1992: 8) adalah proses dimana manusia secara kolektif menciptakan dan meregulasikan realitas sosial (communication is the process whereby humans collectively creat and regulate social reality). Definisi tersebut menguraikan beberapa hal penting yang berkaitan dengan pengertian komunikasi:

1. Komunikasi sebagai proses (communication as process)
2. Komunikasi sebagai ciri khas manusia yang unik (communication as uniqely human)
3. Komunikasi sebagai aktivitas kolektif (communication as collecyive activity)
4. Komunikasi sebagai usaha kreatif (communication as creative endeavor)
5. Komunikasi sebagai pengatur (communcation as regulatory) (Trenholm dan Jensen, 1992: 8-10).

Implikasi penggunaan definisi di atas memunculkan beberapa hal penting. Pertama, komunikasi masing-masing manusia saling menciptakan realitas dunia mereka. Dengan kata lain, realitas adalah produk komunikasi. Kedua, manusia memperkenankan apa yang telah mereka ciptakan melaluikomunikasi untuk mengontrol mereka. Ketiga komunikasi selalu terjadi dalam konteks budaya. Keempat, komunikasi membutuhkan kerjasama, maksudnya apa yang penting dalam komunikasi antarpersona adalah apa yang dilakukan orang ketika mereka bersama, bukan pada waktu mereka terpisah.

Dari sini dapat dijelaskan bahwa konsep yang digunakan dalam pendefinisian komunikasi adalah komunikasi sebagai proses sebagai aktivitas simbolis dan sebagai transaksi makna. Pertama, komunikasi sebagai suatu proses, disebut proses karena komunikasi merupakan aktivitas dinamis, aktivitas yang terus berlangsungsecara berkesinambungan sehingga terus mengalami perubahan. Kedua, komunikasi sebagai aktivitas simbolis. Komunikasi disebut sebagai aktivita simbolis karena aktivitas berkomunikasi menggunakan simbol-simbol bermakna yang diubah ke dalam kata-kata untuk ditulis dan diucapkan, atau simbol nonverbal untukdiperagakan. Simbol komunikasi dapat berbentuk tindakan dan kreativitas manusia, tampilan objek yang mewakili makna tertentu. Makna di sini adalah persepsi, pikiran atau perasaan yang dialami seseorang yang pada gilirannya dikomunikasikan kepada orang lain.

Ketiga, komunikasi sebagai transaksi makna. Kegiatan komunikasi memang merupakan kegiatan mengirim dan menerima pesan, namun pesan sama sekali tidak berpindah, yang berpindah adalah makna pesan tersebut. Para ahli komunikasibahwa komunikasi adalah kegiatan "pertukaran makna", makna itu ada di dalam setiap orang yang mengirimkan pesan. Jadi, makna bukan sekedar kata-kata verbal dan perilaku nonverbal, tetapi makna adalah pesan yang dimaksudkan oleh peserta komunikasi yang satu dan diharapkan akan dimengerti oleh peserta yang lain.

Sumber:
Yasir, 2009, Pengantar Ilmu Komunikasi, Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Riau, Pekanbaru. Hal. 3-8.

Daftar Referensi:
Littlejohn, Stephen W., 1999, Theoris of Human Communication, Sixth Edition, Wadsworth Publishing Company, Belmont, USA.

Miller, Katherine, 2002, Communication Theories; Perspective, Process and Contexts, McGraw Hill, Texas.

Mulyana, Deddy, 2001, Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Trenholm, Sarah & Arthur Jensen, 1992, Interpersonal Communication, Second Edition, Wadsworth Publising Company, Belmont, California.

West, Richard & Lynn . Turner, 2008, Pengantar Teori Komunikasi; Analisis dan Aplikasi, Edisi 3, Buku 1 dan 2, penerjemah Maria NAtalia Damayanti Maer, Salemba Humanika, Jakarta.

Hi... I'm Martius, You can find more about me. Thanks for coming to my blog and hope you enjoy it.

0 komentar

Posting Komentar